Saturday, 3 June 2017

Bahana Bomoh : Didera Selepas Bomoh Syak Siswa UPNM Curi Komputer?

SERDANG, 3 Jun — Nama Zulfarhan Osman Zulkarnain, kadet yang mati didera kelmarin, disebut-sebut bomoh sebagai individu yang mencuri komputer riba.

Bapa saudaranya berkata perkara itu dimaklumkan rakan baik  mangsa melalui WhatsApp kepada ibu siswa itu Hawa Osman, lapor akhbar Harian Metro.

Mesej itu menyebut Zulfarhan dipukul sebelum Ramadan lagi kerana dituduh mencuri walaupun beliau bukan satu-satunya pelajar yang disyaki.



“Tapi Paan (Zulfarhan) jadi suspek sebab orang tanya bomoh la bagi keluar nama dia. Lepas tu nak bagi dia mengaku, kawan-kawan pukul dia beramai-ramai.

“Arwah kena pukul dua hari sebab tidak mengaku,” mesej WhatsApp itu dipetik.

Bagaimanapun Harian Metro tidak menamakan bapa saudara dan rakan baik mangsa.

Zulfahran, 21 meninggal dunia di Hospital Serdang 10 malam Khamis dengan kesan melecur di dada, tangan dan kaki, dipercayai ditekap seterika wap.

Seramai 36 pelajar direman bagi membantu siasatan kes kematian pegawai kadet laut tahun tiga Universiti Pertahanan Nasional Malaysia (UPNM) itu.

Menteri Pertahanan Datuk Seri Hishammuddin Hussein sudah mengarahkan UPNM dan Angkatan Tentera Malaysia (ATM) menjalankan siasatan segera.

Ibu saudara mangsa Hairiah Jelani pula menyifatkan keadaan mangsa “umpama daging bakar” dengan hampir semua tubuh ada kesan melecur.

“Saya dimaklumkan doktor, arwah meniggal akibat melecur tahap tiga,” katanya.

Sementara itu, Harian Metro juga melaporkan polis sedang menjejaki bomoh yang didakwa menyebut nama mangsa sebagai pelajar yang disyaki mencuri.

Seorang doktor klinik swasta di Bangi tempat arwah dirawat pada 27 dan 31 Mei lalu juga akan dipanggil memberi keterangan, lapor portal akhbar itu.

“Selain doktor itu, kami juga akan menjejaki dan merakam keterangan bomoh yang didakwa menyebut nama arwah sebagai individu yang mencuri komputer riba.

“Suspek menggunakan alasan itu untuk memaksa Allahyarham mengaku tindakannya (mencuri),” kata ketua Jabatan Siasatan Jenayah Selangor SAC Fadzil Ahmat. 

Tuesday, 30 May 2017

Bagaimana Hukum dan Status Puasa Orang Yang Kena Gangguan?

Bagaimana Hukum dan Status Puasa Orang Yang Kena Gangguan?

BAGAIMANA HUKUM PUASA ORANG YANG KESURUPAN ???
Bismillah wash-sholaatu was-salaamu 'ala Rasulillaahi wa ba'du...
Kesurupan (Rasukan / Gangguan) adalah fenomena merasuknya jin ke dalam tubuh manusia, banyak diantara saudara saudari kita yg diberi ujian Allah berupa gangguan jin kendati bulan mulia ini sudah masuk ke 10 hari terakhirnya.
Lalu bagaimanakah hukum puasa orang yg terkena kesurupan di bulan Ramadhan ?
Maka sebelum kita membahas masalah ini lebih lanjut ada baiknya kita mengetahui jenis-jenis kesurupan terlebih dahulu.. 
Di dalam kitab Wiqoyatul Insan Minal Jinni wasy Syaithan hal.75, Syaikh Wahid 'Abdussalam Bali hafidzahullah membagi kesurupan menjadi 4 bagian :
1.Kesurupan secara menyeluruh/total (كلي) "kully", yaitu gangguan jin yg menguasai dan merasuk ke seluruh tubuh, seperti gila, tubuh diambil alih oleh jin , syaraf-syaraf terkunci sehingga tidak bisa mencapai titik kesadaran, dll
2.Kesurupan secara parsial (جزئي) "Juz-iy", yaitu gangguan jin yg menguasai bagian-bagian tertentu dari anggota tubuh seperti tangan atau kaki
3.Kesurupan permanen (دائم) "Daa-im", yaitu gangguan jin baik secara kully maupun juz-iy yg terjadi dalam jangka waktu yg lama. Seperti gila, rematik yg berkepanjangan, linglung, mengamuk tidak jelas, stroke akibat sihir, dll
4.Kesurupan sesaat (طائف) "Thaa-if", yaitu gangguan jin yg menimpa tubuh pada waktu tertentu dan tidak berlangsung lama, spt contohnya kawabis atau yg sering dibilang "kelindihen" /ereup-ereup..
Dari keempat bagian kesurupan di atas, ternyata tidak semuanya menghilangkan akal manusia.
Jika hanya tangan dan kaki yg dikuasai jin sehingga bergerak-gerak tanpa keinginan sendiri, atau mungkin lidah yg dibuat menjulur tanpa kontrol, atau emosi dibuat labil pada pasangan, atau dibuat nangis sendiri tanpa sebab, atau selalu dibuat ereup-ereup saat tidur, maka hal-hal tersebut sama sekali TIDAK merusak ataupun membatalkan puasa...
Yang jadi permasalahan jika jin sudah menguasai sistem kerja syaraf dan hormonal sehingga berperan penting pada kesadaran manusia hampir 100% atau bahkan sudah 100%, inilah yang disebut sebagai kesurupan (كلي)"kully" atau kesurupan total (iaitu tidak sedar langsung)...
Kesurupan total ini kadang ada yg berlangsung lama dan ada yg sekilas di waktu-waktu tertentu saja...
Jika seseorang terkena kesurupan secara kully/total maka dia sama sekali tidak bisa mengendalikan dirinya. 
Sama spt kisah Ummu Zufar radhiyallaahu 'anha yg auratnya sering tersingkap saat dirasuki jin, berikut adalah periwayatan haditsnya :
عن عطاء بن رباح قال : قال لي ابن عباس - رضي الله عنه – : ( ألا أريك امرأة من أهل الجنة ؟ قلت : بلى ، قال هذه المرأة السوداء أتت النبي صلى الله عليه وسلم فقالت : إني أصرع وإني أتكشف فادع الله لي ، قال : إن شئت صبرت ولك الجنة ، وإن شئت دعوت الله أن يعافيك ؟ فقالت : أصبر ، فقالت : إني أتكشف فادع الله لي أن لا أتكشف ، فدعا لها )
Dari 'Atha bin Rabaah ia berkata, Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata kpadaku,
"Maukah engkau aku tunjukan seorang perempuan ahli surga ?"
'Tentu', sahutku..
Beliau berkata : "Perempuan hitam ini dulu pernah mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian dia berkata : "Aku sering kesurupan dan terbuka auratku, maka berdoalah kepada Allah untukku.."
Maka Rasulullah menjawab : "Apabila engkau menghendaki untuk bersabar maka engkau akan mendapatkan surga, namun jika engkau menghendaki aku akan berdoa agar Allah menyembuhkanmu.."
Perempuan itu menjawab : "Aku akan bersabar"
Kemudian berkata lagi : "Namun doakanlah kepada Allah agar auratku tidak terbuka lg"...
Hadits ini banyak sekali yang meriwayatkan salah satunya adalah Imam al-Bukhari di dalam shahihnya, sedangkan yg menguatkan bahwa Ummu Zufar terkena gangguan jin adalah penjelasan yg disampaikan al-Hafidzh Ibnu Hajar al-'Asqolany berikut :
وعند البزار من وجه آخر عن ابن عباس في نحو هذه القصة أنها قالت : إني أخاف الخبيث أن يجردني ، - والخبيث هو الشيطان -
Dalam periwayatan lain al-Bazzar dari Ibnu 'Abbas pada kisah yg sama, ia (Ummu Zufar) berkata : "Aku takut kalau si jelek ini akan menelanjangiku, -si jelek yg dimaksud adalah SETAN-..
(Fathul Baariy 10/115)
Dari sinilah kesurupan total termasuk dalam kategori ighma' alias HILANG KESADARAN karena korbannya tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri dan tidak mengetahui apa-apa yg dikerjakannya..
Jika kesurupan total ini terjadi secara daa-im (terus menerus dan berlangsung lama) maka puasanya TIDAK SAH dan dia tidak dihukumi puasa walaupun saat dikuasai jin dia tidak makan dan minum selama satu bulan penuh, dan dia wajib meng-qadha' puasa-puasa yg telah terlewat.
Namun jika kesurupan total terjadi secara "thaa-if" maka puasanya tetap dihukumi SAH, seperti contoh kesurupan total saat diruqyah di bulan ramadhan dan kembali sadar seusai ruqyah, atau kesurupan total hanya di waktu sore hari saja, atau bahkan sempat sadar walau hanya sebentar di waktu siang hari di bulan ramadhan...
Syaikh Shalih Al-Munajjid menjelaskan masalah ighma' sebagai berikut :
مذهب الإمامين الشافعي وأحمد أن من أصيب بإغماء في رمضان لا يخلو من حالين :
Madzhab dua imam, al-Imam asy-Syaafi'iy dan al-Imam Ahmad mengatakan bahwa hilangnya kesadaran (ighma') tidaklah lepas dari dua keadaan ini :
الأولى :
PERTAMA
:
أن يستوعب الإغماء جميع النهار ، بمعنى أنه يغمى عليه قبل الفجر ولا يفيق إلا بعد غروب الشمس.
Hilang sadar seharian penuh..
Yakni orang tsb pingsan dari sebelum fajar, dan baru tersadar setelah maghrib
فهذا لا يصح صومه ، وعليه قضاء هذا اليوم بعد رمضان .
Maka hal ini menjadikan puasanya tidak SAH, dia wajib meng-qadha' puasa hari itu pada hari yg lain
والدليل على عدم صحة صومه أن الصوم إمساك عن المفطرات مع النية ، لقول الله تعالى في الحديث القدسي عن الصائم : ( يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي ) رواه البخاري (1894) ومسلم (1151) . فأضاف الترك إلى الصائم ، والمغمى عليه لا يضاف إليه الترك .
Dalil yg menyatakan puasanya tidak sah adalah karena puasa itu MENAHAN dari segala hal-hal yg membatalkannya dengan disertai NIAT, sebagaimana yg Allah firmankan di hadits qudsy: "Ia meninggalkan makanannya, minumannya, dan syahwatnya karena Aku (Allah)"... HR.Bukhari (1894) dan Muslim (1151).
Kata "meninggalkan" (dalam hadits tsb) disandarkan pada orang yg berpuasa, sedangkan orang yg hilang kesadaran tidak termasuk yg disandarkan..
وأما الدليل على وجوب القضاء عليه فقول الله تعالى : ( وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ) البقرة/185 .
Sedangkan dalil yang mewajibkan ia meng-qadha' puasanya adalah firman Allah Ta'ala :
"Barangsiapa yg sakit atau bepergian maka hendaknya ia mengganti puasanya di hari lain" (al-Baqoroh : 185)
الثانية :
KEDUA :
أن يفيق جزءً من النهار – ولو لحظة - فهذا يصح صيامه . سواء أفاق من أول النهار أو آخره أو وسطه .
Orang yg tersadar di sebagian siang -walau hanya sadar sebentar- maka puasanya SAH...
Entah dia sadar di awal siang, di pertengahannya, atau di akhirnya...
قال النووي رحمه الله وهو يذكر اختلاف العلماء في هذه المسألة :
Imam an-Nawawi rahimahullah menyebutkan beberapa perselisihan ulama mengenai masalah ini :
وأصح الأقوال : يشترط الإفاقة في جزءٍ منه اهـ .
Dan pendapat yang paling SHAHIH adalah "disyaratkan sadar pada sebagian waktu di siang hari.."
أي : يشترط لصحة صوم المغمى عليه أن يفيق جزءً من النهار .
Maksudnya : disyaratkan sah-nya puasa orang yg hilang kesadaran dengan KESADARAN di sebagian waktu siang..
والدليل على صحة صومه إذا أفاق جزءً من النهار أنه قد وجد منه الإمساك عن المفطرات في الجملة.
Dalil bahwa puasanya tetap SAH jika tersadar di sebagian waktu siang adalah karena dia telah mendapatkan "Imsak" atau sempat menahan diri dari hal2 yg membatalkan puasa...
Bisa dilihat lebih lengkap dalam :
"حاشية ابن قاسم على الروض المربع" (3/381)
KESIMPULAN :
Jika orang yang kesurupan masih mampu mengendalikan akalnya, sadar akan apa yg ia kerjakan, dan hanya dirasuki di bagian tubuh tertentu semisal tangan, kaki, perut, maka puasanya tetap SAH
Jika orang yg kesurupan sudah dikuasai jin hingga benar-benar hilang akal sehatnya, maka ini terbagi menjadi dua :
1.Apabila terus menerus dari fajar hingga seusai maghrib dia baru sadar, maka puasanya TIDAK SAH dan wajib qadha'
2.Apabila sempat tersadar walau hanya sebentar di siang hari, maka puasanya tetap Sah, sama spt mughmi (orang pingsan) yg sempat tersadar di siang hari dihukumi sah puasanya oleh madzhab asy-Syaafi'iy dan imam Ahmad, pendapat ini yg dipilih oleh syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah...
Lebih lengkap silahkan dilihat di :
المجموع (6/346) ، المغني (4/344) ، الشرح الممتع (6/365).
والله أعلم .
☆☆Bumi Allah, 20 Ramadhan 1437 H☆☆

Monday, 29 May 2017

Waktu Rawatan Darussyifa BBST Sepanjang Ramadhan 1438h / 2017

Untuk makluman semua, waktu rawatan di Pusat Rawatan Kecil Darussyifa' Bandar Baru Salak Tinggi sepanjang Ramadhan 1438h / 2017 adalah seperti berikut

waktu rawatan darussyifa bbst sepanjang ramadhan 2017

Setiap Selasa Minggu 1, 2 dan 3

Bermula jam 9.30 malam sehingga 10.30 malam

Irsyad Al-Fatwa: Hukum Berubat Dengan “Perawat Islam” dan Hukum Meminta Pertolongan Dengan Jin?

Soalan:
Apakah hukum berubat dengan “perawat Islam” dan hukum meminta pertolongan dengan jin?

Jawapan:
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT dan selawat dan salam ke atas junjungan besar Nabi Muhammad SAW, ahli keluarga, para sahabat serta orang-orang yang mengikuti jejak langkah Nabi SAW.
Isu yang pertama kami cuba bawakan pandangan-pandangan ulama yang berkaitan dengan ruang lingkup perawatan bagi “perawat Islam”. Dalam konteks perubatan alternatif di Malaysia perawat Islam lebih dikenali sebagai seorang yang mengamalkan ruqyah dan terlibat dengan perubatan alternatif atau komplementatif iaitu pelengkap kepada perubatan moden.
Syeikh Jibrin dalam Fatawanya daripada kitab al-Lu’lu al-Makin menyebut:
Sebenarnya dibolehkan menggunakan ruqyah bagi sesiapa yang baik bacaannya, memahami maknanya, mempunyai akidah yang betul dan melakukan amal perbuatan yang baik serta mempunyai peribadi yang baik. Tidak disyaratkan kepada penjampi (perawat) untuk mengetahui semua permasalahan furu’ (cabang) di dalam masalah agama dan mempelajari ilmu secara mendalam. Hal ini berdasarkan kisah Abu Said yang menjampi orang yang telah sesat disengat binatang berbisa. Beliau berkata: “Kami tidak pernah mengetahui (surah al-Fatihah) sebagai ayat untuk menjampi atau seperti yang termaktub di dalam hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim. Orang yang menjampi mestilah mempunyai niat yang baik dan bertujuan untuk memberikan manfaat kepada orang Islam serta tidak bercita-cita untuk memperolehi harta dan ganjaran agar jampi yang dibaca itu lebih berkesan.” Lihat al-Lu’lu al-Makin (22).
Adapun jika perawat Islam melakukan proses perubatan dengan menjampi pesakit seperti ruqyah atau sebagainya, maka perlulah menuruti syarat-syarat dalam menjampi. Ini kerana untuk membezakan antara ruqyah yang menepati sunnah dengan ruqyah yang bercanggah dengan sunnah:
Kami bawakan di sini tiga syarat yang disebut oleh Imam al-Hafiz Ibn Hajar al-Asqalani dalam kitabnya al-Fath al-Bari, Antaranya menyebut:
“Para ulama telah sepakat tentang kebolehan membuat rawatan jika mengikuti tiga syarat ini:
  • Ruqyah hendaklah dilakukan dengan menggunakan firman Allah SWT atau dengan nama-nama dan sifat-sifat-
  • Ruqyah hendaklah dilakukan dengan menggunakan bahasa arab atau sesuatu bahasa selain bahasa arab yang difahami maknanya.
  • Menyakini bahawa ruqyah itu tidak memberikan pengaruh dengan sendirinya tetapi hanyalah dengan izin Allah SWT.
Lihat al-Fath al-Bari (10/240)
Syeikhul Islam Ibn Taimiyyah ada menyebut di dalam kitabnya Majmu’ al-Fatawa:
“Adapun mengubati orang yang dirasuk jin dengan menggunakan ruqyah dan memohon perlindungan diri kepada Allah SWT hendaklah memiliki dua perkara ini:
  • Jika ruqyah dan permohonan perlindungan diri ini difahami maknanya, atau merupakan kalimah-kalimah yang dibolehkan dalam Islam, atau berupa doa dan zikir kepada Allah SWT, maka ruqyah tersebut boleh dilakukan. Jika demikian keadaannya, maka boleh membuat rawatan terhadap orang yang dirasuk dan memohon perlindungan diri kepada Allah SWT.
Dalam hadis sahih yang berasal daripada Nabi SAW disebutkan bahawa Nabi SAW membolehkan untuk meruqyah selama mana ianya tidak mengandungi amalan syirik. Baginda SAW juga bersabda: “Sesiapa di antara kamu yang mampu memberi manfaat kepada saudaranya maka lakukanlah.”
  • Jika dalam membuat rawatan itu terdapat ungkapan-ungkapan yang diharamkan seperti ungkapan yang mengandungi amalan syirik atau tidak diketahui maknanya dan berkemungkinan mengandungi kekufuran, maka tidak harus membuat rawatan dengannya, tidak boleh berkeinginan dan tidak boleh pula bersumpah untuk menggunakan kalimah tersebut walaupun kadang-kadang dengan menggunakan kalimah tersebut dapat menghalau jin keluar dari tubuh orang yang dirasuk. Ini kerana apa-apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya lebih besar mudaratnya berbanding manfaatnya.
Syeikhul Islam Ibn Taimiyyah juga berkata sebagaimana yang disebut di dalam kitabnyaMajmu’ al-Fatawa (19/13): “Oleh itu, para ulama kaum muslimin melarang membuat rawatan dengan sesuatu yang tidak diketahui maknanya kerana ia dapat menjadi punca terjatuhnya seseorang ke dalam lembah amalan syirik walaupun pengruqyah (perawat) tidak menyedarinya.”
Imam al-Nawawi juga ada menyebut di dalam kitabnya Syarh Sahih Muslim (14/141-142):
Hendaklah meninggalkan ruqyah jika ruqyah yang dibaca berasal daripada ucapan-ucapan orang kafir, membuat rawatan dengan kalimah-kalimah asing, merawat dengan bacaan selain bahasa arab yang tidak diketahui maknanya. Semua itu tercela kerana ada kemungkinan maknanya adalah kekufuran, mendekati kekufuran atau makruh.
Adapun membuat rawatan dengan ayat-ayat al-Quran dan zikir-zikir yang difahami tidaklah dilarang, bahkan merupakan amalan yang sunnah. Para ulama telah menukilkan sebagai ijma’ tentang kebolehan membuat rawatan dengan ayat-ayat al-Quran dan zikir-zikir kepada Allah SWT.
Imam Syauqani berkata: “Bahawa harus meruqyah dengan kitab Allah SWT, dan diikuti dengan zikir dan doa-doa yang ma’thur, boleh juga doa yang tidak ma’thur selagi mana tidak bertentangan dengan yang ma’thur.” Lihat Nail al-Autar (10/440)
Kami juga berpandangan adalah perlu dan seharusnya bagi seorang yang bergelar perawat Islam adalah orang yang sahih dan betul akidahnya, baik akhlaknya, tidak melakukan dosa-dosa besar atau kecil berterusan sehingga menjatuhkan maruah sebagai seorang perawat serta tidak melakukan kesyirikan kepada Allah SWT dan tidak menjadikan khidmat rawatan Islam sebagai sumber rezeki dan seumpamanya. 
Berdasarkan pandangan-pandangan ulama di atas, maka jelaslah menggunakan khidmat rawatan daripada perawat Islam hukumnya adalah harus jika sekiranya perawat Islam menggunakan bacaan jampi atau ruqyah dalam perawatannya, maka hendaklah menepati seperti apa yang telah disebutkan di atas dan tidak melanggar syarat-syarat dan prinsip-prinsip dalam perubatan ruqyah dan perbuatan alternatif Islam. 
Isu yang kedua ialah berkaitan hukum meminta bantuan pertolongan daripada jin.
Syeikh Dr Wahbah al-Zuhaili pernah ditanya: “Adakah harus meminta pertolongan dengan jin muslim? Dan apakah hukum meminta pertolongan dengan jin muslim untuk berkhidmat kepada orang Islam? Dan Apakah hukum meminta pertolongan dengan jin secara umum? Maka Syeikh menjawab: “Haram meminta pertolongan dengan jin walau dalam apa keadaannya sekalipun. Dan perkara ini adalah tercela secara syara’. Ini berdasarkan firman Allah SWT:
وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا
MaksudnyaDan bahawa sesungguhnya adalah (amat salah perbuatan) beberapa orang dari manusia, menjaga dan melindungi dirinya dengan meminta pertolongan kepada ketua-ketua golongan jin, kerana dengan permintaan itu mereka menjadikan golongan jin bertambah sombong dan jahat.
(Surah al-Jin: 6)
Lihat Maqalah Syeikh Dr Abdul Qader bin Muhammad al-Ghamidi bertajuk Hukm al-Isti’anah bi al-Jin fi al-Mubahat (Hukum Meminta Pertolongan Dengan Jin Dalam Perkara Yang Harus).
Sebuah institusi fatwa iaitu Lajnah Daimah ada menjawab di dalam fatwanya apabila ditanya oleh seorang lelaki berkenaan hukum meminta bantuan jin:
Tidak boleh bagi orang itu meminta bantuan jin, dan muslim tidak boleh mendatanginya untuk mengubati pelbagai penyakit melalui perantara jin, atau (tidak boleh) untuk memenuhi permintaan lainnya dengan cara tersebut. Perawatan melalui doktor yang menggunakan ubat yang diperbolehkan merupakan usaha yang harus dilakukan dan ini selamat dari pembomohan. Dalam riwayat sahih daripada Rasulullah SAW bahawasanya beliau bersabda:   “Sesiapa mendatangi bomoh kemudian menanyakan sesuatu, maka solatnya tidak diterima selama empat puluh malam. Diriwayatkan daripada Muslim dalam kitab Sahihnya. Para perawi hadis yang empat (Abu Daud, al-Tirmizi, Nasaei dan Ibn Majah) dan Hakim -- dan yang terakhir ini mengatakan hadis ini sahih -- meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW bersabda:   “Sesiapa yang mendatangi bomoh (ahli sihir) kemudian membenarkan perkataannya, maka ia telah kufur (ingkar) terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad. Lelaki ini dan kawan-kawannya daripada kalangan bangsa jin termasuk dalam golongan tukang ramal dan bomoh, maka mereka tidak boleh diminta bantuan dan tidak boleh dipercayai ucapannya.
Berdasarkan pandangan-pandangan ulama di atas, maka kami lebih cenderung kepada pendapat yang mengharamkan meminta pertolongan dengan jin.
Semoga dengan pencerahan ini kita dikurniakan oleh Allah SWT kefahaman dan penjagaan daripada-Nya dari segala keburukkan manusia dan selainnya. Amiin.

Sumber: http://muftiwp.gov.my/index.php/ms-my/perkhidmatan/irsyad-fatwa/1535-irsyad-al-fatwa-siri-ke-189-hukum-berubat-dengan-perawat-islam-dan-meminta-pertolongan-jin

Tuesday, 23 May 2017

Ajaran Ilmu Syahadah dan Zikir Nafas Ismail Bin Kassim (PERAHMAT) Menyeleweng

Ajaran Ilmu Syahadah dan Zikir Nafas Ismail Bin Kassim (PERAHMAT) 


Setelah meneliti setiap pandangan ahli muzakarah dan hujah-hujah yang dikemukakan, Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Negeri Sembilan Bil 2/2017-1438H yang bersidang pada 30 Mac 2017 bersamaan 2 Rejab 1438H telah bersetuju dan memutuskan dengan sighah seperti berikut :

1.  Ajaran Ilmu Syahadah dan Zikir Nafas Ismail Bin Kassim adalah menyeleweng dan bertentangan dengan akidah Ahli Sunnah Wal Jamaah,

2.  Penyelewengan ajaran Ajaran Ilmu Syahadah dan Zikir Nafas Ismail Bin Kassim ini adalah seperti berikut:

i.  Terbatal Kesemua Rukun Islam Sekiranya Tidak Mempelajari Ilmu Syahadah yang Dibawa Oleh Ismail bin Kassim (IBK). Rukun Islam yang pertama, iaitu mengucap dua kalimah Syahadah bagi seseorang itu terbatal sekiranya dia tidak mempelajari Ilmu Syahadah (Ilmu Penyaksian) yang dibawa oleh Ismail bin Kassim. Ilmu Syahadah yang dimaksudkan ialah ilmu penyaksian roh yang sedang bersyahadah.

ii.  Tuntutan Mencari Penyaksi Di Alam Arwah. Seseorang itu hendaklah berusaha mencari penyaksinya yang akan dibawa sebagai saksi pada hari akhirat kelak. Sekiranya penyaksi tersebut tidak dapat ditemui, ia akan menyebabkan amalan Zikir Nafasnya tidak dapat berjalan dengan lancar. Namun begitu, dia tidak perlu bersusah payah untuk mencari penyaksi kerana penyaksi itu akan diutuskan oleh Allah s.w.t di alam shahadah, apabila mengamalkan Zikir Nafas.

iii.  Wajib Mempelajari Zikir Nafas Kerana Tiada Cara Lain Untuk Mencari Allah Kecuali Melaluinya. Seseorang itu Wajib Mempelajari Zikir Nafas, kerana tiada cara lain untuk mencari Allah kecuali melaluinya. Mencari Allah s.w.t melibatkan peranan yang dimainkan oleh qalbu. Anggota pancaindera manusia yang lain, seperti mata dan telinga peranannya terhad kepada alam zahir sahaja, berbeza dengan qalbu yang mempunyai peranan ghaib. Hanya dengan amalan Zikir Nafas boleh membuka mata hati qalbu. Oleh yang demikian, apabila mata hati qalbu seseorang telah terbuka, maka dia akan dapat melihat penyaksian roh, dan perkara-perkara ghaib yang lain dengan berterusan secara autopilot. Manakala untuk mengambil ilmu Zikir Nafas pula, hendaklah melalui guru yang berketurunan Ahli Bait sahaja.

iv.  Mengisi Nafas Dengan Zikir لا إله إلا الله . Seseorang itu perlu mengisi nafasnya dengan zikir لا إله إلا اللهSetiap orang yang mengikuti ajaran Zikir Nafas diminta agar mencari danmengambil bai’ah kalimah لا إله إلا الله. Zikrullah ini hendaklah dilakukan secara berterusan selama 24 jam tanpa henti. Kaedah untuk mendapatkan zikir tanpa henti tersebut ialah melalui pengisian zikir dalam pernafasan. Apabila kalimah zikir telah diisi dalam pernafasan, setiap kali manusia bernafas, nafasnya akan berzikir mengingati Allah s.w.t (لا إله إلا الله). Perkiraan yang dibuat terhadap bilangan zikir yang akan terhasil daripada pernafasan tersebut adalah sebanyak 2,592 (108x24) zikir sehari. Inilah yang dinamakan Zikir Nafas. Zikir Nafas ini tidak boleh ditalqinkan kepada seseorang, kecuali setelah meyakininya dan melakukan solat Istikharah.

v.  Amalan Zikir Nafas Telah Wujud Sejak Dari Zaman Nabi Adam AS Dan Baginda Adalah Orang Pertama Yang Mempraktikkannya. Allah s.w.t telah meniupkan roh-Nya ke dalam jasad Nabi Adam AS dan seterusnya bernafas, dan nafas pertama yang naik dan turun daripada Adam AS adalah bentuk Zikir Nafas.

vi.  Zikir Nafas Adalah Amalan 124,000 Para Rasul Dan Para Wali Allah. Justeru,para rasul AS diperintahkan oleh Allah s.w.t untuk berkhalwat di dalam gua, kerana apabila berada di dalam gua akan didengar secara jelas bunyi perkataan Zikir Nafas, iaitu ‘hu’, ‘hu’, ‘hu’.

vii. Amalan Zikir Nafas IBK Adalah Sabit Melalui al-Quran, dan Mengingkarinya Bermakna Syak terhadap Ayat al-Quran. Amalan Zikir Nafas adalah sahih dan sabit melalui al-Quran dan al-Hadith, dan sesiapa yang mengingkarinya dianggap telah menaruh syak terhadap al-Quran dan al-sunnah.

viii.  Semua Makhluk Hidup Dengan Rahsia “Hu” (Nama Allah). Hu juga merupakan bunyi nafas yang sedia ada, bunyi oksigen, segala bunyian, peredaran bintang, planet bulan dan mata hari.

ix.  Hari Kiamat Akan Berlaku Apabila Tiada Lagi Makhluk Yang Nafasnya Berzikir Dengan Kalimah Allah. Semua makhluk termasuk haiwan, tumbuh-tumbuhan dan manusia akan mati dan diikuti dengan berlakunya hari kiamat apabila tiada lagi makhluk yang nafasnya berzikir dengan kalimah Allah (Allah, Allah, Allah).

x.  Kelebihan Luar Biasa Apabila Mengamalkan Zikir Nafas. Kelebihan luar biasa apabila mengamalkan Zikir Nafas ialah:
  1. Menyambung talian dengan Allah s.w.t;
  2. Menyambung talian dengan Nabi Muhammad s.a.w;
  3. Menyambung talian emas dengan guru-guru yang sampai sanadnya kepada Nabi Muhammad s.a.w;
  4. Nafas terkawal daripada segala gangguan syaitan,iblis,ifrit dan jin;
  5. Dianggap berada di landasan sirat al-mustaqeem;
  6. Nafas sentiasa rasa dikawal;
  7. Nafas berjalan dengan kelajuan yang begitu normal walaupun mendengar berita buruk dan menakutkan;
  8. Hidup dan mati menjadi kesedaran diri walaupun berada di mana jua;
  9. Apabila lalai dan alpa, nafas akan datang menyedarkan diri kepada Allah;
  10. Akan mendapat husnu al-khatimah.

xi. Mengamalkan Kepercayaan Wahdat al-Wujud. Ismail bin Kassim pernah mengungkapkan kata-kata yang jelas membawa kepada makna Wahdat al-Wujud, iaitu “Aku berkata-kata dengan lidah ni, ini lidah Allah, ini lidah Allah, kafir kamu pergi, kalau kamu menolak, pergi, ini lidah Allah, ini perkataan Allah, di mana kau, kafir terus…’

xii. Mentakwil Ayat-ayat al-Quran secara Bathil. Mentakwil ayat-ayat al-quran secara batil, antaranya seperti berikut:
Pada ayat dalam surah al-Fatihah : إهدنا الصراط المستقيم , Allah SWT akan menjawab: صراط الذين انعمت عليهم, iaituا لصا لحين , الشهدأ, والصديقين
Tafsiran bagi ketiga-tiga perkataan tersebut adalah seperti yang berikut:
  1. الصالحين: Mempunyai zikir nafas dan kenal Allah dengan aqal;
  2. الشهداء : mempunyai Zikir Nafas dan syahadah dengan qalbu;
  3. الصديقين : Mempunyai Zikir Nafas dan rohnya bersyahadah;

xiii. Kaedah Penafsiran al-Quran (Usul Tafsir) Yang MenyelewengAyat-ayat al-Quran tidak boleh difahami semata-mata dengan membaca terjemahannya, kitab-kitab tafsir, mahupun asbab al-nuzul, bahkan hanya boleh difahami dengan ilmu al-Quran (Ilmu Takwil, Ilmu al-Furqan, Ilmu Ma’na, ilmu Maqsud, Ilmu Hikmah, Ilmu Makrifat, Ilmu Hakikat, Ilmu Asrar, Ilmu Ghaib dan Ilmu Yaqin).

xiv.   Berpegang Kepada Hadith Palsu. Antaranya adalah seperti yang berikut:
“Sesiapa yang menyakiti seorang tolibul-ilmi seperti menyakiti 124,000 nabi, sesiapa menyakiti 124,000 nabi seperti menyakiti Rasulullah s.a.w, sesiapa yang menyakiti Rasulullah s.a.w seperti menyakiti Allah, dan sesiapa yang menyakiti Allah, neraka tempatnya”.
“Barang siapa yang mencariku, pasti menjumpai-Nya, barang siapa yang menjumpai-Nya, maka dia telah menjumpai segala-galanya, Nabi Muhammad s.a.w bertanya bagaimana ingin mencari Allah, dan Allah pun menjawab: “Shahadah”.
“Barang siapa yang datang berjumpa dengan Aku dalam pada mana dia mengenal aku, setiap kebajikan aku beri dia sedunia bilangan makhluk yang pernah Aku cipta dan akan aku cipta”.

xv.  Ghuluw (Melampau) dalam Menghormati Guru. Peraturan yang wajib dipatuhi oleh murid kepada Ismail bin Kassim selaku guru atau sheikh seperti berikut: 
  1. Sesiapa yang hendak bersalaman dengan Ismail Bin Kassim wajib mengambil wuduk terlebih dahulu kerana Ismail Bin Kassim dianggap membawa al-Quran yang hidup;
  2. Setiap murid berkeadaan yakin bahawa guru dapat mengesan ketaatan murid, atas izin Allah s.w.t;
  3. Setiap murid jangan menderhaka kepada guru atas amanah-amanahnya;
  4. Setiap murid jangan ada sangkaan bahawa guru tidak mengetahui kelakuan dan perbuatan mereka;
  5. Setiap murid jangan meragui atau membantah di hadapan guru atau dibelakangnya kerana guru hanya mengajar ilmu kalimah la ila ha illallah;
  6. Setiap murid jangan sekali-kali melanggar panduan di atas, kelak akan terjerumus ke dalam kecelakaan dan kebinasaan.

3. Mana-mana orang Islam, samaada secara individu atau berkumpulan adalah dilarang untuk berpegang kepada fahaman dan ajaran Ilmu Syahadah dan Zikir Nafas Ismail Bin Kassim termasuklah:- 

i.  Menjadi pengikut kepada fahaman dan ajaran Ilmu Syahadah dan Zikir Nafas Ismail Bin Kassim atau apa-apa fahaman dan ajaran yang mempunyai persamaan dengan fahaman dan ajaran Ilmu Syahadah dan Zikir Nafas Ismail Bin Kassim; atau,

ii.  Berada dalam majlis, perayaan atau sambutan keraian yang boleh dikaitkan dengan fahaman dan ajaran Ilmu Syahadah dan Zikir Nafas Ismail Bin Kassim; atau,

iii. Mengisytiharkan diri sebagai orang yang berpegang dengan fahaman dan ajaran Ilmu Syahadah dan Zikir Nafas Ismail Bin Kassim atau apa-apa fahaman dan ajaran yang mempunyai persamaan dengannya, sama ada melalui pengakuan bersumpah atau apa-apa kaedah lain seperti berbai’ah (taat setia) dengan fahaman dan ajaran Ilmu Syahadah dan Zikir Nafas Ismail Bin Kassim; atau,

iv. Berselindung di sebalik apa-apa aktiviti ekonomi, perniagaan, pendidikan, kesenian dan sebagainya melalui pertubuhan, persatuan atau syarikat, yang mempunyai unsur-unsur persamaan dengan ajaran fahaman dan ajaran Ilmu Syahadah dan Zikir Nafas Ismail Bin Kassim; atau,

v.  Terlibat dengan pertubuhan, persatuan atau syarikat yang cuba menghidupkan kembali fahaman dan ajaran mereka yang berpegang dengan ajaran Ilmu Syahadah dan Zikir Nafas Ismail Bin Kassim; atau,

vi.  Mengajar, menganjur, mengadakan, membantu menjayakan apa-apa perayaan, sambutan keraian atau majlis yang boleh dikaitkan dengan ajaran Ilmu Syahadah dan Zikir Nafas Ismail Bin Kassim; atau,

vii.  Memiliki, menyimpan, mencetak, menjual atau mengedar filem, rakaman, audio, risalah, buku, majalah atau apa-apa terbitan, risalah atau apa-apa dokumen menggunakan apa-apa bentuk lambang, rajah atau tanda-tanda yang boleh mengaitkan fahaman dan ajaran mereka yang berpegang dengan ajaran Ilmu Syahadah dan Zikir Nafas Ismail Bin Kassim; atau,

viii.  Mengamalkan, menyebarkan dan mengembangkan fahaman dan ajaran Ilmu Syahadah dan Zikir Nafas Ismail Bin Kassim di Negeri Sembilan.

4.  Mana-mana orang Islam yang mengamalkan Ilmu Syahadah dan Zikir Nafas Ismail Bin Kassim adalah disifatkan bercanggah dengan ajaran Islam sebenar dan hendaklah segera bertaubat serta memohon keampunan Allah s.w.t.

5.  Apa-apa variasi, versi, bentuk atau cabang mana-mana ajaran, pegangan atau fahaman baru yang mempunyai persamaan dengan unsur-unsur ajaran, pegangan dan fahaman mereka yang berpegang dengan fahaman dan ajaran Ilmu Syahadah dan Zikir Nafas Ismail Bin Kassim adalah disifatkan mengamalkan ajaran, pegangan dan fahaman yang bercanggah dengan ajaran Islam yang sebenar.

6.  Apa-apa jua bahan publisiti dan sebaran yang menonjolkan ajaran, pegangan atau fahaman mereka yang berpegang dengan fahaman dan ajaran Ilmu Syahadah dan Zikir Nafas Ismail Bin Kassim atau apa-apa fahaman dan ajaran yang mempunyai persamaan dengannya dalam apa jua bentuk penerbitan dan cetakan atau siaran dalam mana-mana sesawang, blog, facebooktwitter atau media sosial lain adalah diharamkan.

7.  Mana-mana orang Islam yang melakukan perkara-perkara di atas adalah melakukan suatu kesalahan dan boleh diambil tindakan di bawah undang-undang yang berkuatkuasa di Negeri Sembilan.

Status pewartaan : Diwartakan
Sumber: http://www.muftins.gov.my/index.php/arkib2/himpunan-fatwa/171-keputusan-mesyuarat-fatwa/977-ajaran-ilmu-syahadah-dan-zikir-nafas-ismail-bin-kassim-perahmat

Hukum Meminta Bantuan Jin - Ust Kamilin Jamilin

HUKUM MEMINTA BANTUAN JIN
1. Jin merupakan makhluk Allah yang kita tidak kenali hakikatnya. Apa yang kita ketahui akannya dari cerita-cerita pihak tertentu barangkali juga bukan hakikat sebenarnya. Kita tidak mampu melihat atau mendengar mereka, tidak seperti manusia yang kita dapat lihat, selidik dan sebagainya. 


Adakah dia benar-benar jin mukmin yang soleh? 
Adakah dia jujur dan benar dalam setiap kata, pengakuan dan tindakannya? 
Adakah keimanan dan ilmu agama kita sudah kukuh untuk menghadapi tipu daya atau pendustaannya?

2. Manusia sememangnya mudah tertarik kepada perkara-perkara mistik. Kerana itu satu jenama majalah berunsurkan mistik dahulu pernah menjadi majalah terlaris negara, malah filem-filem hantu berunsurkan tahyul dan khurafat mendapat antara kutipan tertinggi negara. 



Tabiat insan yang suka mencari sesuatu yang tidak pernah dilihatnya, atau benda hilang, atau hal ehwal pihak lain, atau cerita-cerita aneh lepas atau akan datang, bahkan kepada perkara-perkara ghaib yang hanya Allah mengetahuinya, mudah dijadikan umpan syaitan untuk menyesatkan manusia.

hukum meminta bantuan jin.jpg


3. Lebih tertariknya seseorang itu untuk mengetahui perincian hal-hal ghaib ini, lebih besar fitnah yang akan menimpanya apatah lagi mereka yang berusaha untuk melakukan "deal" atau berdiplomasi dengan makhluk ini. 

Justeru kita mendapati ramai manusia yang terlibat dalam perkara ini terjebak dengan perkara-perkara yang ditegah agama, bahkan ke tahap syirik! Begitulah halusnya tipu daya makhluk halus ini.

4. Tidak dinafikan jin mempunyai kudrat yang tidak dimiliki manusia. Oleh demikian terkadang mereka mampu melakukan apa yang tidak kita mampu berdasarkan kudrat yang Allah kurniakan buat mereka, sama seperti kita mampu mencari sesuatu berdasarkan kemampuan yang kita miliki dari teknologi dan seumpamanya. Begitu juga mereka, namun perkara ini banyak disalah anggap oleh manusia sehingga menyangka mahluk ini mengetahui serba-serbi hal ehwal ghaib.

5. Justeru manusia ditegah dari terlibat dalam hal ini atau memohon bantuan mereka demi menutup pintu-pintu kejahatan ini. Bahkan Nabi SAW yang pernah disihir, kehilangan rantai Asma’ RA dan ditimpa pelbagai kesukaran bersama para sahabat baginda RA pun tidak pernah memohon bantuan makhluk ini. Cukuplah mereka sebagai "uswah" tauladan.

6. Dalam al-Quran Allah berfirman:
وَأَنَّهُۥ كَانَ رِجَالٌ۬ مِّنَ ٱلۡإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ۬ مِّنَ ٱلۡجِنِّ فَزَادُوهُمۡ رَهَقً۬ا
“Dan bahawa sesungguhnya adalah (amat salah perbuatan) beberapa orang dari manusia, menjaga dan melindungi dirinya dengan meminta pertolongan kepada ketua-ketua golongan jin, kerana dengan permintaan itu mereka menjadikan golongan jin bertambah sombong dan jahat” [al-Jin: 6].

وَيَوۡمَ يَحۡشُرُهُمۡ جَمِيعً۬ا يَـٰمَعۡشَرَ ٱلۡجِنِّ قَدِ ٱسۡتَكۡثَرۡتُم مِّنَ ٱلۡإِنسِ‌ۖ وَقَالَ أَوۡلِيَآؤُهُم مِّنَ ٱلۡإِنسِ رَبَّنَا ٱسۡتَمۡتَعَ بَعۡضُنَا بِبَعۡضٍ۬ وَبَلَغۡنَآ أَجَلَنَا ٱلَّذِىٓ أَجَّلۡتَ لَنَا‌ۚ قَالَ ٱلنَّارُ مَثۡوَٮٰكُمۡ خَـٰلِدِينَ فِيهَآ إِلَّا مَا شَآءَ ٱللَّهُ‌ۗ

“Dan (ingatlah) hari (kiamat yang padanya) Allah akan himpunkan mereka semua, (lalu berfirman): Wahai sekalian jin! Sesungguhnya kamu telah banyak pengikut-pengikut dari manusia. Dan berkatalah pula pengikut-pengikut mereka dari golongan manusia: Wahai Tuhan kami, sebahagian dari kami (manusia) telah bersenang-senang (mendapat kemudahan) dengan sebahagian yang lain (Syaitan-syaitan), dan kami telah sampailah kepada masa kami (hari kiamat) yang Engkau telah tentukan bagi kami. (Allah berfirman): Nerakalah tempat kediaman kamu, kekal kamu di dalamnya, kecuali apa yang dikehendaki Allah” [al-An’am: 128].

7. Manakala ada pihak yang berdalilkan ta’amul Nabi Sulayman AS dengan jin, maka kita katakan: Ta’amul baginda AS dengan mereka tidak melampaui syariat yang diturunkan kepada baginda, apatah lagi ianya merupakan khususiyyah (kurniaan khas) kepada baginda berdasarkan doa baginda yang difirmankan Allah:

قَالَ رَبِّ ٱغۡفِرۡ لِى وَهَبۡ لِى مُلۡكً۬ا لَّا يَنۢبَغِى لِأَحَدٍ۬ مِّنۢ بَعۡدِىٓ‌ۖ
“Katanya: Wahai Tuhanku! Ampunkanlah kesilapanku dan kurniakanlah kepadaku sebuah kerajaan (yang tidak ada taranya dan) yang tidak akan ada pada sesiapapun kemudian daripadaku” [Sad: 35].

Apa yang dituntut buat kita umat Muhammad SAW ialah mengikuti syariat Muhammad SAW bukan para Nabi AS terdahulu. 

Jika begitu istidlalnya (cara memahami nas) tanpa dhawabit (guideline), mengapa tidak diambil juga syariat umat Nabi Musa AS yang perlu dibunuh untuk bertaubat sebagaimana dalam surah al-Baqarah?? Atau syariat Nabi Adam AS yang dibolehkan berkahwin sesama adik beradik??

8. Bezakan antara perilaku memohon pertolongan (isti’anah) yang diharuskan dan yang ditegah. 

Perkara-perkara yang khas buat Allah seperti menyembuhkan penyakit tidak boleh dipesongkan doa terhadap manusia.

Itu yang kita baca hari-hari dalam solat: “إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ”, dan itu jualah yang diperintahkan Nabi SAW: “إِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ” (Jika kamu memohon pertolongan, maka pohonlah pertolongan dengan Allah) [Riwayat Ahmad]. 

Tugas manusia hanya berusaha merawat, dan Allah jua yang menyembuhkan. 
Jika perkara-perkara khas ketuhanan tersebut dipohon dari selain-Nya, itu yang termasuk dalam bab syirik. 

Manakala apa yang di ruang lingkup kudrat manusia, ianya harus sebagaimana firman Allah: “وَإِنِ اسْتَنصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ” (Jika mereka meminta bantuan kalian dalam urusan agama, maka bantulah mereka) [al-Anfal: 72]. Nabi SAW memohon bantuan para sahabat dalam banyak perkara, namun tidak pernah memohon bantuan dari mereka dalam perkara-perkara yang melibatkan khususiyyah Allah Yang Maha Kuasa.

9. Kejayaan sesuatu perkara dengan bantuan jin bukan bererti ianya dibenarkan syarak. Adakah Dajjal kelak yang diizinkan Allah menurunkan hujan, menumbuhkan tumbuhan, menghidupkan orang yang telah dibunuh juga dianggap benar hanya kerana "kejayaannya"??

Tuesday, 25 April 2017

Adakah Ada Kaitan Gangguan Ibu Terhadap Anak?

Ini jawapan dari Ustaz Faizar dari Indonesia berkenaan adakah ada kaitan gangguan ibu terhadap anak

Dalam kitab Ahkaamu atta'aamuli ma'al jinni wa adabur ruqaa asy-Syar'iyyah terbitan Maktabah Al-Imam Al-Wadi'iy hal.74, syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdillah Al-Imam mengatakan :
و قد يكون متلبسا به، فهذا أخطر و مؤاذاته أشد، و قد يكون الجني متلبسا بأمه فيؤذيه تبعا لمؤاذاته لأمه
"Dan terkadang jin bisa merasuk ke tubuh anak kecil, gangguan semacam ini lebih berbahaya dan lebih parah. Keadaan yg smacam itu bisa terjadi saat jin merasuk pada tubuh ibunya lalu kemudian mengganggu anaknya sebagai EFEK LANJUTAN atas gangguannya terhadap sang ibu..."

Selanjutnya layari facebook beliau Muhammad Faizar

Tuesday, 4 April 2017

Benarkah Sebaik-baik Jin Adalah Sejahat-jahat Manusia? Ust Abdullah Bukhari

Artikel asal oleh Abdullah Bukhari bin Abdul Rahim dinukil dari facebook beliau.

Benarkah Sebaik-baik Jin Adalah Sejahat-jahat Manusia? Ust Abdullah Bukhari


Seringkali disebut dalam cerita seram yang ditayang di TV bahawa “sebaik-baik jin adalah sejahat-jahat manusia”. Asas pertama yang perlu dipegang apabila membicarakan perihal jin dan malaikat ialah keimanan kepada perkara ghaib. 

Oleh kerana alam jin adalah alam ghaib yang terhalang daripada alam nyata (al-A’raf [7.27]), manusia tidak boleh berbicara tentang jin kecuali mengikut neraca al-Quran dan al-Sunnah. Tanpa asas keduanya, sebarang kenyataan dan kepercayaan berkaitan jin boleh dianggap sebagai khurafat, tidak berasas, rapuh dan tidak boleh dipegang sama sekali.

Kenyataan itu juga sebenarnya salah dan bercanggah dengan al-Quran, al-Sunnah dan akal yang sihat. Terdapat banyak hujah yang menyangkal kenyataan tersebut:

1) Seperti manusia, jin juga dipertanggung jawabkan dengan taklif agama. Firman Allah:
سَنَفْرُغُ لَكُمْ أَيُّهَا الثَّقَلَانِ (31) فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (32)
Ertinya: Kami hanya akan menguruskan hitungan dan balasan amal kamu sahaja (pada hari kiamat,) wahai manusia dan jin! Maka yang mana satu di antara nikmat Tuhan kamu, yang kamu hendak dustakan? (al-Rahman[55:31-32]).

Dengan taklif agama mereka akan diberikan ganjaran pahala dan balasan dosa atas semua perbuatan baik dan buruk mereka. Perbuatan baik pastinya akan diberikan ganjaran syurga, manakala perbuatan jahat akan diberikan balasan neraka di akhirat kelak. Sekiranya kenyataan di atas diterima, nescaya semua jin walaupun yang soleh akan tetap dihumban ke neraka. Kezaliman sebegini juga mustahil bagi Allah yang Maha Adil.

2) Allah mengiktiraf ada jin yang soleh dan layak ke syurga. FirmanNya:
وَأَنَّا مِنَّا الصَّالِحُونَ وَمِنَّا دُونَ ذَلِكَ كُنَّا طَرَائِقَ قِدَدًا
Ertinya: `Dan bahawa sesungguhnya (memang maklum) ada di antara kita golongan yang baik keadaannya, dan ada di antara kita yang lain dari itu; kita masing-masing adalah menurut jalan dan cara yang berlainan (al-Jinn[72:11]).
Juga firmanNya:
وَأَنَّا مِنَّا الْمُسْلِمُونَ وَمِنَّا الْقَاسِطُونَ فَمَنْ أَسْلَمَ فَأُولَئِكَ تَحَرَّوْا رَشَدًا
Ertinya: `Dan bahawa sesungguhnya (dengan datangnya Al-Quran, nyatalah) ada di antara kita golongan yang berugama Islam, dan ada pula golongan yang (kufur derhaka dengan) menyeleweng dari jalan yang benar; maka sesiapa yang menurut Islam (dengan beriman dan taat), maka merekalah golongan yang bersungguh-sungguh mencari dan menurut jalan yang benar, (al-Jinn[72:14]).

3) Allah mengiktiraf para utusan, pendakwah dari golongan Jin (Tafsir Ibn Kathir pada tafsiran ayat berikut):
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آَيَاتِي وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا قَالُوا شَهِدْنَا عَلَى أَنْفُسِنَا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَشَهِدُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا كَافِرِينَ
Ertinya: WAHAI SEKALIAN JIN DAN MANUSIA! BUKANKAH TELAH DATANG KEPADA KAMU PARA RASUL DARI KALANGAN KAMU SENDIRI, yang menyampaikan kepada kamu ayatKu (perintahKu), dan yang memberikan amaran kepada kamu tentang pertemuan kamu dengan hari (kiamat) ini? (al-An’am [6:130]).

Mereka ini adalah generasi awal jin yang memeluk Islam setelah mendengar nabi SAW membaca al-Quran, firmanNya:
وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآَنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ (29) قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ (30) يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآَمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ (31) وَمَنْ لَا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي الْأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءُ أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (32)
Ertinya: Dan (ingatkanlah peristiwa) semasa Kami menghalakan satu rombongan jin datang kepadamu (wahai Muhammad) untuk mendengar Al-Quran; setelah mereka menghadiri bacaannya, berkatalah (setengahnya kepada yang lain): "Diamlah kamu dengan sebulat-bulat ingatan untuk mendengarnya!" Kemudian setelah selesai bacaan itu, kembalilah mereka kepada kaumnya (menyiarkan ajaran Al-Quran itu dengan) memberi peringatan dan amaran. Mereka berkata: "Wahai kaum kami! Sesungguhnya kami telah mendengar Kitab (Al-Quran) yang diturunkan (oleh Allah) sesudah Nabi Musa, yang menegaskan kebenaran kitab Suci yang terdahulu daripadanya, lagi, memandu kepada kebenaran (tauhid) dan ke jalan yang lurus (ugama Islam). "Wahai kaum kami! Sahutlah (seruan) Rasul (Nabi Muhammad) yang mengajak ke jalan Allah, serta berimanlah kamu kepadanya, supaya Allah mengampunkan sebahagian dari dosa kamu, dan menyelamatkan kamu dari azab seksa yang tidak terperi sakitnya. "Dan sesiapa tidak menyahut (seruan) Rasul yang mengajaknya ke jalan Allah, maka dia tidak akan dapat melepaskan diri (dari balasan azab walau ke mana sahaja dia melarikan diri) di bumi, dan dia tidak akan beroleh sesiapapun - yang lain dari Allah - sebagai pelindung yang membelanya; mereka (yang demikian sifatnya) adalah dalam kesesatan yang nyata” (al-Ahqaf [46:29-32]).

4) Generasi awal jin diiktiraf sebagai para sahabat nabi oleh ulama Hadith. Mereka juga menyenaraikan generasi awal jin ini dalam senarai para sahabat nabi. Antara yang disebut adalah: Zawba’ah, al-Arqam, al-Adras, Hasir, Khasir dan sebagainya (al-Isabah fi Ma’rifat al-Sahabah & Mustadrak al-Hakim dalam tafsir surah al-Ahqaf).

Sekiranya kenyataan tersebut dipakai, nescaya kita akan menghukum para sahabat nabi sebagai makhluk yang jahat, sedangkan para ulama’ sepakat menyatakan para sahabat semuanya adil (Dr. Muhammad Abu Layth,’Ulum al-hadith, Asiliha Wa Mu’asiriha, ms 103).

Selain itu banyak sekali ayat al-Quran yang menyokong fakta keadilan para sahabat nabi seperti seperti (al-Tawbah[9:100], al-Fath[48:18], al-Hasyr[59:8-9]). Huraian lanjut mengenai perkara ini sudah dibincangkan pada bab kelima terdahulu.

5) Nabi SAW memuji para sahabatnya dari kalangan jin yang sensitif terhadap ayat Allah ketika mendengar surah al-Rahman. Sebuah hadith menyebut:
خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَصْحَابِهِ فَقَرَأَ عَلَيْهِمْ سُورَةَ الرَّحْمَنِ مِنْ أَوَّلِهَا إِلَى آخِرِهَا فَسَكَتُوا فَقَالَ لَقَدْ قَرَأْتُهَا عَلَى الْجِنِّ لَيْلَةَ الْجِنِّ فَكَانُوا أَحْسَنَ مَرْدُودًا مِنْكُمْ كُنْتُ كُلَّمَا أَتَيْتُ عَلَى قَوْلِهِ
{ فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ } قَالُوا لَا بِشَيْءٍ مِنْ نِعَمِكَ رَبَّنَا نُكَذِّبُ فَلَكَ الْحَمْدُ
Ertinya: Rasulullah keluar membaca surah al-Rahman kepada para sahabatnya dari awal sehingga akhir surah. Mereka hanya diam. Baginda lalu bersabda: Aku pernah membacanya (surah al-Rahman) kepada para jin pada malam jin (malam baginda bertemu dan berdakwah kepada para jin). Reaksi mereka jauh lebih baik berbanding kamu semua. Setiap kali aku membaca (فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ -Maka yang mana satukah antara nikmat Tuhan kamu, yang kamu hendak dustakan - wahai umat manusia dan jin?) *, mereka akan berkata: Tiada satupun antara ni’matMu wahai Tuhan kami yang kami dustai, maka bagiMu sahajalah segala pujian (Sunan al-Tirmidhi & Tafsir Ibn Kathir).
ayat ini berulang sebanyak 31 kali dalam surah al-Rahman.

6) Allah menyediakan syurga untuk manusia dan jin yang beriman. FirmanNya:
فِيهِنَّ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ
Ertinya: Dalam syurga itu terdapat bidadari yang pandangannya tertumpu (kepada mereka semata-mata), YANG TIDAK PERNAH DISENTUH SEBELUM MEREKA OLEH MANUSIA DAN JIN; (al-Rahman[[55:56]).

Ayat ini menunjukkan jin yang beriman dan beramal soleh seperti manusia layak ke syurga (Tafsir Ibn Kathir &Tafsir al-Qurtubi pada tafsiran (al-Rahman[[55:56]).

 Rencana penulis berkaitan tajuk ini pernah disiarkan dalam akhbar Utusan Malaysia pada 28 Januari 2011.


KESIMPULAN

1) Kenyataan yang mengatakan “sebaik-baik jin adalah sejahat-jahat manusia” adalah tidak berasas, khurafat dan perlu dibendung penularannya.

2) Kenyataan tersebut secara tidak langsung menzalimi golongan jin Islam yang soleh. Banyak hujah yang menyangkal kenyataan tersebut, antaranya:
 Jin juga dipertanggungjawabkan dengan taklif agama Allah yang memungkinkan mereka ke syurga atau neraka.
 Allah mengiktiraf kewujudan golongan jin yang soleh dan layak ke syurga.
 Allah mengiktiraf para utusan, pendakwah dari golongan Jin.
 Generasi awal jin yang memeluk Islam di tangan Rasulullah diiktiraf sebagai para sahabat nabi oleh ulama Hadith.
 Nabi SAW memuji para sahabatnya dari kalangan jin yang sensitif terhadap ayat Allah ketika mendengar surah al-Rahman.
 Allah menyediakan syurga untuk manusia dan jin yang beriman.

Petikan dari buku AYAT-AYAT SYAITAN - BAB 10.

Buku ini sudah dihentikan penerbitannya oleh PTS. Saya sedang berusaha edit untuk terbitan semula. Doakan!

Location via Google Maps

Kalam Indah

Sumbangan Dana

Sumbangan Dana

Waktu Rawatan Ramadhan

Rawatan Bangunan

RAWATAN RUMAH & BANGUNAN

Rawatan rumah/ bangunan dijalankan pada HARI KHAMIS (Minggu Pertama & Ketiga) bermula dengan Solat Maghrib sehingga Solat Isyak di tempat tersebut.


Borang rawatan rumah & bangunan boleh diambil dan diisi di Pusat Rawatan Kecil Darussyifa' Bandar Baru Salak Tinggi.

Bidara Syifa - 012 344 7697

Bidara Syifa -  012 344 7697
Hubungi Ust Kamil

Wangian Doa Syifa'

Wangian Doa Syifa'

Jual Beli Hartanah

Vitamin Untuk Kesihatan

Artikel Pilihan